Gadis itu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Dilihatnya buku pelajaran yang berserakan disana sini. Matanya terhenti pada tulisan "Buku Matematika". Gadis itu meraihnya,matanya mulai berkaca-kaca,menahan air mata yang seharusnya tumpah. kenapa ? kenapa aku nggak bisa ngerjakan mat dengan mudah seperti temen-temenku? kenapa aku kesusahan walaupun aku sudah belajar sungguh-sungguh dan berdoa? kenapa??
Wajahnya terlihat murung,lalu mengutuk dirinya habis-habisan. Dia menyesal tidak mengikuti instingnya yang ternyata benar. Hatinya takut akan hasil ujian matematikanya itu.
Aku selalu dipersulit dengan pelajaran ini. Tangannya mengepal sambil meremas buku matematikanya. Dia merasakan dendam dengan pelajaran itu. Dulu,tiap kali ada pelajaran matematika dengan materi yang sulit,dia selalu menyalahkan penemu pelajaran yang menurutnya rumit itu,walaupun sebenarnya itu tak mempengaruhi jalannya pembelajaran.
Penemu matematika bodoh!
Lagi-lagi gadis itu marah. Dia kembali mengatakan bahwa lebih baik menghafal daripada mengerjakan matematika. Atau,dia lebih memilih mengerjakan tumpukan PR daripada mengerjakan soal ujian matematika dan sejenisnya. Otaknya merasa diperas oleh keganasan pelajaran itu.
Gadis itu melempar buku yang diremasnya tadi jauh-jauh. Lalu mengambil buku PKn dan IPA nya.
Aku harus bisa mengimbangi nilai matematikaku dengan nilai mata pelajaran yang lain. Suatu saat,aku janji,aku akan memecahkan semua soal rumit matematika walaupun sebenarnya otakku sudah lelah dibuat pusing olehnya, ujarnya pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar